Seremban, atdikbudkbrikl.org –  Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur meminta para Koordinator Penghubung (KP) di wilayah Sarawak, Tawau, dan Kota Kinabalu untuk meningkatkan kinerjanya supaya tercapainya target melakukan koordinasi dengan sesama kantor perwakilan, pihak manajemen perkebunan kelapa sawit dan juga tokoh masyarakat Indonesia setempat.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur Prof. Dr. Ari Purbayanto mengingatkan para KP untuk selalu melakukan monitoring dan evaluasi kinerja guru di CLC. “Kami minta para KP untuk segera menyiapkan semua target kerjanya, terutama profil CLC agar segera dipublikasikan dalam buku profil CLC Sabah dan Sarawak,” tegasnya.

Pemaparan pertama disampaikan oleh Narullah Ali Fauzi, M.Phil yang bertugas sebagai KP wilayah Sarawak, melaporkan selama satu tahun bertugas sebagai KP, telah mendirikan 16 CLC dan 10 CLC selanjutnya untuk didaftarkan ke Kementerian Pelajaran Malaysia.

Dirinya juga sudah mengupayakan beberapa hal penting lainnya yaitu pembuatan paspor bagi siswa CLC, buku profil CLC, pelatihan guru CLC, dan membuka pelayanan UT serta melobi dua pesantren yang siap menampung lulusan CLC Sarawak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP dan SMA.

Sementara itu, KP wilayah Tawau, Pardianto, S.Kom., .M., MH., memaparkan telah melakukan koordinasi yang intensif dengan puluhan CLC di Tawau dengan berbagai kesulitan dan tantangan, baik tantangan alam maupun tantangan dari manusia, dalam hal ini guru-guru CLC itu sendiri dan juga dari manajemen perkebunan sehingga sampai saat ini, berhasil membuka lima CLC untuk didaftarkan ke Kementerian Pelajaran Malaysia.

Pemaparan dari KP Kota Kinabalu Heri Cahyadi, MT., melaporkan telah berhasil membuka sembilan CLC baru dan didaftarkan secara resmi di Kementerian Pelajaran Malaysia. Sebagaimana KP lainnya, KP Kota Kinabalu juga telah membangun koordinasi yang baik dengan guru CLC dan semua stake holder terutama KJRI Kota Kinabalu dan Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).

Mengakhiri laporan oleh Taufiq Hasyim Salengke selaku Koordinator Pendidikan Non Formal yang menyampaikan perlunya membuka Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di wilayah KJRI Penang mengingat jauhnya jarak antara Penang dan Kuala Lumpur untuk memudahkan pelayanan ujian paket kesetaraan.

Merespon laporan dari semua KP di Sabah dan Sarawak, Atase Pendidikan dan Kebudayaan menuntut laporan rutin para KP. Atdikbud juga meminta para KP untuk mengumpulkan laporan kinerja guru di semua CLC supaya perkembangan dan capaiannya terkontrol dengan baik. (THS)

administratorKegiatan Atase Pendidikan
Seremban, atdikbudkbrikl.org -  Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur meminta para Koordinator Penghubung (KP) di wilayah Sarawak, Tawau, dan Kota Kinabalu untuk meningkatkan kinerjanya supaya tercapainya target melakukan koordinasi dengan sesama kantor perwakilan, pihak manajemen perkebunan kelapa sawit dan juga tokoh masyarakat Indonesia setempat. Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI...