Kuching Sarawak, atdikbudkl.org. Duta Besar RI untuk Malaysia, Rusdi Kirana melakukan dialog bersama perwakilan perusahaan sawit di Sarawak membahas pentingnya segera dibangun Community Learning Center (CLC) di Kuching Sarawak untuk mencegah peningkatan angka kriminalitas yang akan membahayakan kedua negara di kemudian hari.

Pertemuan yang berlangsung 14/11/2017 kemarin dihadiri sebanyak 28 perusahaan sawit di Serawak.

“Isu anak-anak TKI di ladang yang ilegal merupakan masalah besar kedua negara Indonesia dan Malaysia. Puluhan ribu anak-anak TKI ilegal yang tidak sekolah sangat mudah disusupi faham radikalisme, militan dan belum lagi mereka akan lebih bodoh dari orang tuanya bila tidak bersekolah. Mereka juga sangat rentan melakukan tindakan kriminal. Hal ini menjadi masalah kita bersama yang perlu segera diatasi,” himbau Duta Besar kepada perwakilan perusahaan kelapa sawit dalam pertemuan tersebut.

Duta besar menegaskan pentingnya keterlibatan perusahaan sawit untuk segera mengatasi persoalan ini. Hingga saat ini Pemerintah Indonesia telah berhasil membangun sebanyak 19 CLC di Sarawak, tiga diantaranya baru saja diresmikan oktober lalu. Diharapkan hingga akhir Juni 2018 mendatang total sebanyak 50 CLC telah beroperasi untuk memenuhi keperluan pendidikan anak-anak Indonesia di Sarawak.

Atdikbud KBRI Kuala Lumpur Prof Ari Purbayanto sebagai salah satu penggagas wujudnya legalisasi pendirian CLC di Sarawak mengawali penjelasan teknis pendirian CLC menegaskan bahwa KBRI Kuala Lumpur dan KJRI Kuching berkomitmen penuh untuk membantu proses pendirian CLC di ladang-ladang yang mempekerjakan orang Indonesia.

Meskipun saat ini 19 CLC sudah berhasil didirikan, namun masih ada ribuan anak Indonesia lainnya yang belum mendapatkan akses pendidikan dasar. Sedikitnya 31 CLC lagi barulah dapat memenuhi keperluan pendidikan mereka. Sebagai Atdikbud, Prof.Ari memberikan jaminan dukungan penuh bagi perusahan sawit yang ingin mendirikan CLC bagi anak-anak pekerjanya termasuk dukungan untuk mendapatkan izin dari Kementerian Pendidikan Malaysia.

Secara detil Prof. Ari Purbayanto menjelaskan prosedur teknis yang harus dilewati untuk mendirikan CLC di wilayah Sarawak. Menurutnya, terdapat beberapa hal mendasar yang harus disiapkan perusahaan untuk pembentukan CLC. Diantarnya adalah pendataan calon pelajar, mempersiapkan calon guru lokal, menyediakan tempat belajar, dan juga tempat tinggal yang layak untuk tenaga guru.

“Jika bagian utama sudah disiapkan, tahap selanjutnya adalah pendaftran CLC kepada Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak (JPNS). Setelah itu dilanjutkan dengan Pembentangan (Presentasi) Pembentukan CLC.

Tahap berikutnya adalah Surat izin Pendirian CLC Sementara dari Bahagian Pendidikan Swasta, Kementerian Pendidikan Malaysia. Jika surat izin CLC Sementara sudah keluar tahap akhir adalah Pengiriman Guru dari Indonesia,” jelas Atdikbud.

Setelah 50 CLC beroperasi pada akhir 2018 mendatang, Atdikbud akan mengupayakan pendirian Sekolah Indonesia Sarawak. Surat Dubes kepada Menteri Pendidikan Sarawak perihal permohonan izin dan dukungan pendirian sekolah tersebut sudah disampaikan kepada Chief Minister Sarawak Datuk Patinggi (Dr) Abang Haji Abdul Rahman Zohari.

Dubes Rusdi Kirana menegaskan, bagi syarikat perladangan sawit yang mempekerjakan TKI dimana anak-anaknya tidak bisa bersekolah, namun tidak mendukung pendirian CLC, maka Pemerintah RI akan mengambil langkah tegas.

Konsul Jenderal Republik Indonesia di Kuching Serawak, Jahar Gultom yang turut hadir dalam pertemuan mengingatkan, bahwa Duta Besar Rusdi Kirana sangat konsen dan fokus pada pengembangan CLC. Perusahaan harus melihat isu CLC dari sisi kemanusiaan bukan hanya mengejar keuntungan semata. Pendidikan adalah hak dasar semua manusia yang telah diakui masyarakat dunia tanpa terkecuali.

“Kami berharap dialog ini dapat memberikan pemahaman pentingnya akses pelayanan pendidikan bagi anak-anak sekaligus mengajak para wakil perusahaan yang hadir memberikan komitmen secara langsung melalui perjanjian kerjasama dengan KJRI untuk mendirikan CLC di ladang pintanya,” tegas Jahar Gultom.

Dari jumlah undangan yang hari, sebanyak 14 perusahaan diantaranya seperti Borneo Agro Resource, Tradewinds Plantation, Woodman Plantation, dan Jaya Tiasa Holding, telah berkomitmen untuk mendirikan CLC baru. Selain manager/pengurus syarikat perladangan kelapa sawit turut hadir sejumlah pejabat diplomat KBRI Kuala Lumpur dan KJRI Kuching. [ES] administratorKegiatan Atase PendidikanKegiatan Sekolah Indonesia di Malaysia

Kuching Sarawak, atdikbudkl.org. Duta Besar RI untuk Malaysia, Rusdi Kirana melakukan dialog bersama perwakilan perusahaan sawit di Sarawak membahas pentingnya segera dibangun Community Learning Center (CLC) di Kuching Sarawak untuk mencegah peningkatan angka kriminalitas yang akan membahayakan kedua negara di kemudian hari. Pertemuan yang berlangsung 14/11/2017 kemarin dihadiri sebanyak 28...