Tawau, Sabah-Atdikbudkl.org: Pertengahan kekan lalu, Atdikbud KBRI Kuala Lumpur Mokhammad Farid Maruf Ph.D., melakukan kunjungan bersama tim visitasi dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) / Badan Perencanaan Pembangunan (Bappenas) RI dan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI ke Community Learning Center (CLC) di Tawau Sabah.

Visitasi ke CLC Tawau ini sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Pemantauan Tematik ke Sekolah di Daerah Perbatasan yang menjadi fokus dalam capaian Arah Kebijakan dan Strategi RKP (Rencana Kerja Pemerintah).

Tujuan dari visitasi ini adalah mengamati kondisi perkembangan pelaksanaan pendidikan di Perbatasan sehingga diperoleh gambaran pelaksanaan kegiatan dan memetakan permasalahan apa saja yang harus diatasi untuk rekomendasi penyempurnaan atau perbaikan untuk kebijakan, program dan kegiatan Pembangunan di bidang Pendidikan pada masa yang akan datang.

Tim PPN/Bappenas terdiri dari Bapak Setyo Hari Priyono, Bapak Rio Syahli, Bapak Sularso dan Ibu Ayu Putu Eka Novita dari Direktorat Pendidikan dan Agama. Adapun Tim dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terdiri dari Ibu Rika Rismayanti (Direktorat Pembinaan Khusus, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah serta Bapak Ilham Anwar dan Bapak Suherdi dari Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri.

Turut serta pada visitasi tersebut Bapak Emir Faisal, Pelaksana Fungsi (PF) Penerangan Sosial dan Budaya (Pensosbud) KRI Tawau, Sdr. Riki Rikmansyah selaku Koordinator Penghubung (KP) CLC Tawau beserta staf KBRI KL dan KRI Tawau.

CLC pertama yang dikunjungi adalah CLC Holy Trinity yang menggunakan kelas-kelas di sekolah gereja yang memiliki 90 siswa. Sebagian biaya operasional belajar ditanggung oleh oleh pihak gereja.

Pemerintah Indonesia memberikan bantuan 2 guru bina serta insentif kepada 5 guru lokal. Kepada pengelola CLC, Atdikbud KBRI Kuala Lumpur meminta agar pengelolaan dana pemerintah dilakukan secara baik sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

Pada kesempatan diskusi tersebut juga diadakan pembahasan berkaitan dengan penempatan program repatriasi siswa yang sampai dengan saat ini masih dengan biaya mandiri yang cukup besar, sedangkan sebagian besar orangtua tidak mampu. Pada tahun 2019, program repatriasi memakan biaya sekitar Rp 163 juta. Untuk itu, Atdikbud mengharapkan agar biaya program repatriasi siswa di masa mendatang dapat diperoleh dari bantuan Pemerintah.

Visitasi dilanjutkan ke CLC Sungai Balung yang memiliki 100 siswa dan 3 guru bina dan 4 guru lokal. Tim visitasi berkesempatan mengadakan dialog baik dengan para siswa maupun para guru. Fasilitas sekolah dan tempat tinggal para guru disediakan oleh perusahaan.

Terakhir ke CLC Tunas Perwira 2 yang berada di daerah Wakuba yang dirintis oleh Bapak Thomas seorang WNI yang berasal dari NTT. CLC tersebut menempati sebuah rumah kayu yang sebelum ini merupakan rumah kosong yang dimiliki seorang warga negara Malaysia yang sudah tidak ditempati dan tidak terawat. Rumah kosong tersebut diperbaiki secara gotong royong dan swadaya dari orangtua siswa.(ESW)

EditorKerjasama Atdikbud
Tawau, Sabah-Atdikbudkl.org: Pertengahan kekan lalu, Atdikbud KBRI Kuala Lumpur Mokhammad Farid Maruf Ph.D., melakukan kunjungan bersama tim visitasi dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) / Badan Perencanaan Pembangunan (Bappenas) RI dan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI ke Community Learning Center (CLC) di Tawau Sabah. Visitasi ke CLC Tawau...