Mengurus pendidikan perlu profesional, perlu juga berkesinambukan dan konsistensi. Inilah yang dilakukan oleh Atdikbud KBRI Kuala Lumpur dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang barusa saja beres menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Lokal Community Learning Center (CLC) Jenjang Sekolah Dasar se-Sabah, 4-6 September 2019 di Balung Eco Resort, Tawau, Sabah.

Atdikbud KBRI Mokhammad Farid Maruf, Ph.D., telah hadir pada kegiatan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Lokal Lokal Community Learning Center (CLC) Jenjang Sekolah Dasar se-Sabah di Balung Eco Resort, Tawau, Sabah. Kegiatan pelatihan ini diselenggarakan atas kerjasama Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) dengan Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Dikretorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud RI.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Bapak Sulistijo Djati Ismojo, Konsul RI Tawau serta turut dihadiri oleh Bapak Emir Faisal, Pelaksana Fungsi Pensosbud, Konsulat RI Tawau, Dra. Palupi Raraswati M.A.P., Kasubdit Perencanaan dan Pengendalian Kebutuhan, Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Kemdikbud RI, Para Narasumber dari Universitas Negeri Yogyakarta, Bapak Kuswanto Daryono, S.Pd., Plh. Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Bapak Riki Rikmansyah, Koordinator Penghubung (KP) Community Learning Center (CLC) Wilayah Kerja KRI Tawau, Encik Muhammad Zakaria Manager serta Encik Somali, Plantation Advisor Syarikat Ladang Rimau, para peserta pelatihan, staf Pensosbud KRI Tawau terkait, staf Atdikbud KBRI Kuala Lumpur serta para panitia kegiatan pelatihan yang berasal dari Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).

Pada sambutan pembukaannya Bapak Sulistijo Djati Ismojo, Konsul RI Tawau menyampaikan terima kasih kepada Syarikat Ladang Rimau telah memberikan pinjaman ruangan dimana kegiatan pelatihan berlangsung. Salah satu tugas KRI Tawau dalam rangka perlindungan WNI yaitu dengan memberikan pendidikan dasar bagi anak-anak Indonesia. Adapun salah satu kendala yang dihadapi dalam memberikan pendidikan dasar kepada anak-anak WNI tersebut adalah kurangnya tenaga guru terutama guru bina baik yang saat ini telah kembali ke Indonesia karena diterima sebagai ASN atau sedang mengikuti pelatihan di Jakarta.

Untuk itu, peran guru lokal sangat luar biasa karena harus mengajar beberapa kelas pada waktu kelas ditinggalkan oleh guru-guru bina. Dengan adanya kegiatan pelatihan ini diharapkan agar guru-guru lokal dapat meningkatkan kemampuan mengajar dan menularkan kegiatan positif kepada para siswa. Kegiatan pelatihan ini juga sangat mahal dalam hal pengalaman karena hanya guru-guru lokal terpilih yang dapat mengikuti pelatihan tersebut. Untuk itu, Konsul RI berharap agar kegiatan dapat dilakukan tidak hanya sekali setahun, namun dapat dilakukan dua kali dalam setahun agar guru-guru lokal lain dapat memperoleh kesempatan yang sama. Saat ini, guru lokal yang mengikuti pelatihan berjumlah 90 orang sedangkan jumlah keseluruhan guru lokal di Sabah sekitar 260 orang.

Pada acara pembukaan Bapak Kuswanto Daryono Plh. Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu berkesempatan memberikan laporannya yang antara lain menyampaikan bahwa saat ini terdapat 50000 anak-anak WNI usia sekolah di Sabah, namun baru 26000 yang telah mendapatkan layanan pendidikan. Untuk kegiatan pelatihan tersebut pihak panitia telah mengundang para Narasumber yang kompeten sehingga para guru diharapkan akan meningkatkan ketrampilan dalam memberikan layanan pendidikan dan bisa lebih aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan. Guru diharapkan akan lebih percaya diri dalam mengajar serta meningkatkan mutu lulusan. Selanjutnya Plh. Kepala SIKK menyampaikan permohonan arahan dari Konsul RI Tawau dan menghimbau para guru untuk memanfaatkan kesempatan pelatihan ini sebaik-baiknya.

Pada kesempatan yang sama, Ibu Dra. Palupi Raraswati, M.A.P. selaku perwakilan dari Kemdikbud RI juga menghimbau kepada para guru untuk dapat mengupas tuntas pelatihan ini walaupun dalam waktu yang hanya 3 hari untuk selanjutnya diimplementasikan di CLC masing-masing. Para guru juga diminta untuk memiliki kemampuan pedagogik yaitu sosial, kepribadian dan profesional. Selain itu, Dra. Palupi Raraswati, M.A.P. juga meminta agar para guru dapat mengoptimalkan komunikasi dengan para orangtua sehingga informasi berkaitan siswa tidak hanya diperoleh dari warga sekolah namun juga dari rumah. Hal tersebut diharapkan agar guru dapat segera mengidentifikasi apabila siswa sedang menghadapi masalah.Kegiatan ini juga adalah bentuk apresiasi pemerintah RI kepada guru pamong yang merupakan ujung tombak layanan pendidikan di CLC-CLC, karena walaupun jarang menerima sentuhan dari Pemerintah RI namun kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan lancar. Dra. Palupi Raraswati, M.A.P. juga berkesempatan menginformasikan bahwa Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud RI yang sebelum ini hanya menangani CLC di Malaysia telah mendapatkan amanah tambahan yaitu mengelola Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) yang berada di mancanegara. Acara Pembukaan pelatihan tersebut juga dimeriahkan dengan persembahan tari dan permainan angklung lagu-lagu daerah dari siswa CLC SMP 33 Balung River.

Pada kegiatan pelatihan Atdikbud KBRI Kuala Lumpur berkesempatan melakukan paparan bertema “Peran Atdikbud dalam Fasilitasi Pendidikan CLC” yang antara lain menyampaikan bahwa masalah belajar dan mengajar adalah bukan berada di kurikulum namun dari para guru, karena soal-soal yang diberikan masih berupa jawaban fixed seperti 2+2 = 4 yang seharusnya angka 4 dapat berasal dari 3-1 atau 4+0 dan lain sebagainya. Ini fenomena yang terjadi di Indonesia yang tidak dapat dibayangkan apabila siswa diberikan soal fixed tersebut sampai 20 tahun kedepan sehingga siswa menjadi kurang kreatif. Kesempatan menyelenggarakan proses belajar dan mengajar di luar negeri, para guru diminta untuk lebih kreatif dan dapat menyerap sistim belajar mengajar yang baik di Malaysia sehingga siswa dapat lebih kreatif.

Saat ini, Kemdikbud RI terus melakukan perbaikan-perbaikan agar soal-soal yang diberikan kepada para siswa lebih tematik sehingga siswa akan lebih kreatif. Prestasi para siswa repatriasi di Indonesia juga lebih baik jika dibandingkan dengan siswa lokal, hal tersebut disebabkan para siswa repatriasi sudah berjuang lebih awal untuk menempuh pendidikan sehingga bisa lebih kreatif dalam belajar. Pada kesempatan tersebut Atdikbud memberi kesempatan kepada para guru untuk sesi tanya jawab yang disambut antusias oleh peserta. Sebagian besar pertanyaan serta saran dari para guru berkaitan dengan proses belajar dan mengajar di CLC.

Atdikbud KBRI Kuala Lumpur juga berkesempatan menyampaikan permintaan maaf atas nama pemerintah karena belum bisa memberikan yang terbaik kepada guru-guru lokal dan mengucapkan terima kasih atas pengabdian para guru tetap semangat untuk mengajar walaupun dengan fasilitas yang sangat terbatas.Atdikbud juga meminta agar guru-guru lokal dapat mendata kebutuhan guru di CLC-CLC sehingga pengiriman guru-guru dapat sesuai dengan kebutuhan mapel yang diperlukan di CLC masing-masing. Menanggapi masalah yang dihadapi para guru untuk siswa yang mendaftar namun usianya sudah tidak sesuai, para guru diharapkan untuk tidak mencampur dengan para siswa yang usianya lebih muda yang akan menghambat kegiatan belajar dan mengajar di kelas tersebut. Untuk itu, para guru diminta untuk menyediakan kelas khusus bagi siswa tersebut sebelum siswa dapat duduk di kelas yang sesuai dengan usianya.

Konsul RI Tawau juga berkenan menyampaikan paparannya tentang Peran KRI Tawau dalam perlindungan WNI khususnya di bidang Pendidikan yang antara lain berkaitan dengan Dasar Hukum Layanan Pendidikan bagi anak-anak TKI, Pendirian CLC, Peran KRI Tawau dalam Memberikan Layanan Pendidikan bagi Anak-anak TKI seperti Mengurus Visa Guru Bina, Mendukung Kegiatan Pelatihan Guru , Menyeleggarakan Kompetisi bagi anak-anak CLC seperti Apresiasi Prestasi dan Seni (APSI). Pada dasarnya WNI tidak sendiri di negara orang namun negara hadir ditengah-tengah mereka. Untuk itu, Konsul RI Tawau meminta kepada para guru untuk tidak segan menyampaikan permasalahan yang dihadapi agar dapat segera ditangani oleh pihak KRI Tawau. Pada kesempatan tersebut, para guru mengajukan permohonan perpanjangan Surat Keputusan Penugasan dari KRI Tawau yang telah berakhir sebagai persyaratan pengajuan NUPTK serta pengeluaran Kartu Identitas Guru dari KRI Tawau agar kegiatan belajar dan mengajar berjalan dengan lancar. Hal tersebut akan segera ditindaklanjuti oleh KRI Tawau.

Adapun beberapa paparan yang disampaikan oleh para Narasumber berupa Games, Model Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Menyenangkan yang disampaikan dalam bentuk Teori dan Pendampingan Kerja per Kelompok yang disampaikan oleh Prof. Dr. Hari Amirullah Rachman, M.Pd. dan Ibu Woro Sri Hastuti, M.Pd. Adapun tema Kompetensi Guru dan Implementasinya dalam Pengajaran disampaikan oleh Dra. Iis Nurhayati, M.Pd. Dra. Palupi M.Pd. juga menyampaikan paparannya bertema Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Sekolah.(ESW-Tawau)

EditorPendidikan Non Formal
Mengurus pendidikan perlu profesional, perlu juga berkesinambukan dan konsistensi. Inilah yang dilakukan oleh Atdikbud KBRI Kuala Lumpur dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang barusa saja beres menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Lokal Community Learning Center (CLC) Jenjang Sekolah Dasar se-Sabah, 4-6 September 2019 di Balung Eco Resort,...