Sarawak-Atdikbudkl.org: Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur Mokhamad Farid Maruf membuka secara resmi acara Pelatihan Peningkatan Mutu Pendidik Community Learning Center (CLC) Sarawak. Acara yang diinisiasikan oleh Koordinator Penghubung CLC Sarawak tersebt berlangsung di Hotel Promenade, Bintulu, Sarawak, tanggal 15-17 Desember 2019.

Hadir pada kesempatan tersebut Koordinator Penghubung CLC Sarawak (Miri) Gaguk Dwi Saputro, KP Kuching, Sarawak Lucky Fathria dan beberapa Manajemen Ladang Sawit pemilik CLC, guru bina dan guru pamong CLC Sarawak, guru bina Tahap 10 CLC Sarawak, Perwakilan dari Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) serta staf Atdikbud KBRI Kuala Lumpur.

Dalam laporan KP CLC Sarawak (Miri) disampaikan bahwa jumlah peserta pelatihan ini disertai oleh 48 orang guru yang terdiri dari 30 orang guru bina dan 18 orang guru pamong yang berasal dari CLC Biru, CLC Al-Hijrah Ladang Mutiara, CLC Melur Gemilang, CLC Ladang Ladong, CLC Jelalong, CLC Suai 2 Telabit, CLC Ladang Trusan, CLC Ladang Worldsign, CLC Sebakong, Mukah, CLC Ladang Sungai Sungai Balim, CLC Ladang Rinwood Pelita, CLC Ladang Sachiew, dan CLC Ladang Gayanis.

Sementara itu Atdikbud menyampaikan bahwa pelatihan ini diharapkan akan dapat meningkatkan kapasitas terutama dalam menghadapi anak-anak didik lebih baik dibandingkan sebelum mendapatkan pelatihan.

Materi yang disampaikan pada kegiatan Pelatihan tersebut yang terdiri dari Leadership and Management oleh Mahsun Ismail, S.Ag.,M.M. dan Team Building serta Ice Breaking for Classroom yang disampaikan oleh Wahyudi Sukarno, S.Kom.,H.Ec. dari Eagle Fundamental Surabaya. Sedangkan nara sumber lain adalah Billy Antono dari Ditjen Dikdas Kememdikbud RI yang menyampaikan materi Budaya Literasi untuk Guru dan Produksi Tulisan, Satu Guru, Satu Artikel (PUTU SAGU ATI) serta Kak Cuk yang berasal dari Pontianak yang menyampaikan materi Parenting.

Pada kesempatan tersebut Atdikbud KBRI Kuala Lumpur juga berdialog dengan para guru peserta pelatihan terkait beberapa masalah yang dihadapi para guru seperti bagaimana orangtua lebih percaya pada guru pamong dibandingkan guru bina serta meyakinkan orangtua betapa pentingnya pendidikan.

Untuk itu, Atdikbud memberikan saran agar guru-guru melakukan pendekatan human approach kepada para orangtua murid dan masyarakat di sekitarnya. Adapun untuk meyakinkan para orangtua siswa pentingnya pendidikan dapat dilakukan safari orangtua dan anak-anak yang sukses dalam mengikuti program repatriasi ke beberapa CLC di Sarawak.

Para guru CLC Sarawak juga meminta pertimbangan untuk mendapatkan beasiswa Universitas Terbuka (UT). Saat ini UT Sarawak berada menginduk pada UT Tarakan, para guru berharap agar induk UT Sarawak dapat dipindahkan ke UT Pontianak agar lebih dekat. Untuk itu, Atdikbud akan berkomunikasi langsung dengan pihak UT Pusat di Jakarta.

Adapun beberapa permasalahan lain yang dihadapi para guru adalah perusahaan tidak mengizinkan para siswa atau guru untuk mengikuti kegiatan luar serta kondisi ruang kelas yang kurang memadai. Untuk itu, Atdikbud menugaskan para KP CLC Sarawak dengan melibatkan KJRI Kuching untuk melakukan pendekatan dengan perusahaan.

Atdikbud juga akan mendukung kegiatan-kegiatan seni budaya yang akan dilakukan oleh para siswa dan guru CLC Sarawak yang antara lain keikutsertaan pada Festival Seni Internasional yang akan disertai oleh 34 negara serta penyelenggaraan “Indonesian Keren” berupa festival dengan booth-booth makanan Indonesia serta pertunjukkan kesenian Indonesia.(ESW)

EditorKerjasama Atdikbud
Sarawak-Atdikbudkl.org: Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur Mokhamad Farid Maruf membuka secara resmi acara Pelatihan Peningkatan Mutu Pendidik Community Learning Center (CLC) Sarawak. Acara yang diinisiasikan oleh Koordinator Penghubung CLC Sarawak tersebt berlangsung di Hotel Promenade, Bintulu, Sarawak, tanggal 15-17 Desember 2019. Hadir pada kesempatan tersebut Koordinator...