Kota Kinabalu-atdibikbudkl.org: Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur Mokhammad Farid Maruf Ph.D., memimpin pembahasan dan diskusi perihal Program Repatriasi anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Acara berlangsung hangat di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Sabtu (22/6/2019).

Hadir pada kesemoatan tersebut Cahyono Rustam P.F. Pensosbud KJRI Kota Kinabalu, Ringgi Perdini P.F. Pensosbud KJRI Kuching, Firma Agustina P.F.Pensosbud KRI Tawau, Dr. Encik Abdul Hajar Kepala Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Istiqlal Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu, Dadang Hermawan Koordinator Penghubung (KP) Community Learning Center (CLC) Malaysia, Nasrullah Ali Fauzi KP CLC Sarawak (Miri), Riki Rikmansyah KP CLC Tawau, Lucky Fathria KP CLC Sarawak (Kuching), staf Atdikbud dan beberapa guru SIKK terkait.

Kegiatan diawali dengan laporan KP CLC Malaysia serta para guru SIKK terkait yang antara lain menyampaikaan bahwa pada tahun 2019 jumlah siswa CLC yang akan mengikuti program repatriasi adalah 623 anak dengan rincian Repatriasi Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM): 500 anak, Repatriasi Yayasan: 48 anak dan Repatriasi Mandiri: 75 anak.

Untuk Program Repatriasi ADEM, telah ditunjuk 23 guru yang akan mendampingi anak-anak ke 45 sekolah mitra yang berada di 10 provinsi di Indonesia. Pendampingan tersebut terbagi dalam 4 zona yaitu zona Jawa Timur, Bali, Lombok sebanyak 145 peserta, zona Jawa Barat, Banten dan Lampung sebanyak 187 peserta zona Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 37 peserta dan zona Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan sebanyak 131 peserta.

KP CLC Malaysia juga menyampaikan beberapa kendala dan hambatan-hambatan yang dihadapi berkaitan dengan program Repatriasi ADEM tersebut yang antara lain pembiayaan guru pendamping yang saat ini masih mandiri yang diperoleh dari hasil urunan guru-guru CLC. Selain itu, mahalnya biaya transportasi menuju sekolah-sekolah yang dituju sehingga cukup membebani siswa dan orang tua serta proses seleksi yang memakan waktu cukup panjang yang juga memerlukan biaya besar.

Atdikbud dalam tanggapannya menyampaikan apresiasi yang besar kepada para guru CLC yang terlibat dalam program repatriasi tersebut yang selama ini dilaksanakan secara mandiri. Untuk selanjutnya Atdikbud meminta agar program ini dapat diinformasikan kepada Pemerintah RI dalam hal ini Kemdikbud RI agar program repatriasi ini dapat memperoleh dukungan baik berupa pendanaan maupun distribusi sehingga di masa mendatang siswa yang mengikuti program repatriasi tidak harus didampingi sampai ke sekolah yang dituju, namun cukup diserahkan kepada Dinas Pendidikan Provinsi setempat.

Pada kesempatan tersebut, Atdikbud juga meminta agar para KP CLC untuk segera membuat kalender kegiatan monitoring siswa repatriasi sebagai dasar untuk pengajuan dana kepada Pemerintah RI pada tahun depan. (ESW)

EditorUncategorized
Kota Kinabalu-atdibikbudkl.org: Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur Mokhammad Farid Maruf Ph.D., memimpin pembahasan dan diskusi perihal Program Repatriasi anak-anak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Acara berlangsung hangat di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Sabtu (22/6/2019). ​Hadir pada kesemoatan tersebut Cahyono Rustam P.F. Pensosbud KJRI Kota...